Seorang Napi Aktif Memproduksi Ekstasi di Rumah Sakit -->

Seorang Napi Aktif Memproduksi Ekstasi di Rumah Sakit

Sabtu, 22 Agustus 2020, 15:13 WIB
Oleh Gugun Marpaung
Advertisement

Jakarta, Policeline - Terungkap sudah pabrik pembuatan ratusan butir ekstasi tapi dengan cara apakah napi Ami Utomo Putro alias napi AUP (bandar narkoba) memproduksi ratusan butir ekstasi di rumah sakit?

Pada awalnya napi AUP meminta bantuan kaki tangannya untuk menyelundupkan peralatan pembuatan narkoba ke dalam salah satu ruang VVIP di rumah sakit.

Selanjutnya napi AUP juga membeli peralatan tersebut secara online. Untuk mengelabui petugas, barang-barang itu dimasukkan ketika anak buahnya MW membesuknya.

"Namanya pasien pasti ada saja yang kunjungi. Salah satunya si MW. Dia manfaatkan waktu tersebut untuk menerima dan memasukkan barang-barang," ungkap Kapolsek Sawah Besar, Kompol Eliantoro Jalmaf, (21/8/2020).

Diduga sebelumnya napi AUP tetap memproduksi ekstasi meski sedang diopname di rumah sakit. Perbuatannya terbongkar usai Unit Reserse Narkoba Polsek Sawah Besar berhasil menangkap MW (36).

Bahwa napi AUP merupakan seorang napi binaan Rutan Salemba. Saat aksinya diketahui oleh petugas, rencananya napi AUP akan dipindahkan ke Lapas Super Maximum Security di Nusakambangan.

Kemudian, kapan waktu yang tepat bagi napi narkoba ini untuk meracik ekstasi?


Berikut kronologi aksi napi AUP yang kedapatan menjadikan salah satu ruangan di RS di kawasan Jakarta Pusat sebagai gudang untuk memproduksi ratusan butir ekstasi :

1. Cara napi AUP memproduksi ekstasi

Menurut penjelasan Kapolsek Sawah Besar Kompol Eliantoro Jalmaf, bandar narkoba berinisial AUP (42) yang memproduksi ekstasi di rumah sakit, dalam melancarkan aksinya sebelumnya napi AUP membaca pola tim medis dalam melakukan kunjungan pasien, untuk melancarkan aksinya.

Masih penjelasan Kompol Jalmaf, bahwa napi AUP melakukan aksi itu tidak sendiri melainkan dibantu anak buahnya MW, menggunakan kesempatan meracik ekstasi ketika kunjungan dokter berakhir. Biasanya napi AUP meracik ekstasi tersebut dari pukul 23.00 WIB sampai 03.00 WIB.

Bahwa napi AUP dirawat di rumah sakit kawasan Jakarta Pusat selama kurang lebih dua bulan di salah satu ruang kelas VVIP. Di sanalah dia meracik ekstasi.

"Sehari kalau tidak salah ada tiga kali pengecekan terhadap pasien. Di ambilah waktu kosong digunakan sama dia. Kurang lebih sekitar jam 23.00 WIB hingga 03.00 WIB," kata Jalmaf saat dihubungi, (21/8/2020).

2. Produksi ekstasi perharinya 100 butir.

Berdasarkan penjelasan Jalmaf, meski napi AUP dan anak buahnya berada di rumah sakit, hal ini tak menghalanginya meracik ekstasi. Dalam 1 hari napi AUP bahkan bisa memproduksi 50 sampai 100 butir ekstasi.

"Yang bersangkutan bisa menciptakan 50 sampai 100 butir ekstasi dalam sehari," kata Jalmaf.

3. Kaki tangan menyeludupkan alat produksi pembuat ekstasi.

Dalam memproduksi ratusan butir ekstasi tersebut, napi AUP meminta bantuan MW untuk menyelundupkannya ke RS tempat dia dirawat.

"Alat untuk memproduksi ekstasi pertama dipasok oleh rekannya berinisial MW. Dia membawa dari luar. Ada juga beberapa alat dipesan secara online untuk dimasukkan ke kamar napi AUP. Tapi tetap melalui MW. Jadi pemesannya melalui online, ada pula melewati si MW secara langsung," kata dia saat dihubungi, (21/8/2020).

Berdasarkan keterangan dari Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Heru Novianto, napi AUP ini memanfaatkan kelengahan pihak rumah sakit untuk memproduksi narkoba.

"Dari tangan napi AUP, penyidik mendapatkan beberapa butir ekstasi dan alat pembuatnya," jelas Novianto saat dikonfirmasi (19/8/2020) kemarin.

Selanjutnya napi AUP dipindahkan ke RS Polri Jakarta Timur. Atas perbuatannya, napi narkoba tersebut dijerat Pasal 113 ayat 2 subsider Pasal 112 ayat 2 junto Pasal 132 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara.

4. Biaya sewa kamar VVIP RS perharinya Rp 1.4 jt

Novianto juga menjelaskan, bahwa napi AUP setiap harinya mengeluarkan uang sebesar Rp 1,4 juta untuk membayar sewa kamar di rumah sakit yang dimana dijadikan tempat untuk memproduksi barang haram tersebut.

"Sehari Rp 1,4 juta, kali 2 bulan, sudah berapa itu," kata Novianto (21/8/2020) kemarin.

Kombes Pol Novianto tak menyebutkan nama rumah sakit yang kamarnya disewa napi AUP untuk memproduksi barang haram tersebut.

"(Sistem pembayaran) belum saya tanya, tapi yang jelas sudah dibayar sama yang bersangkutan," ujarnya.

5. Pihak rutan salemba merujuk napi AUP ke rumah sakit itu.

Sebelumnya pihak Rumah Tahanan (Rutan) yang memberikan izin Narapidana atas nama Ami Utomo Putro dirawat di Rumah Sakit, Jakarta Pusat.
"Dari pihak rutan (merujuk ke rumah sakit itu)," kata Jalmaf saat dihubungi, (22/8/2020).

Sebelumnya Napi AUP ditangkap di ruang perawatan kelas VVIP di sebuah rumah sakit kawasan Jakarta Pusat (16/8/2020) kemarin. Saat dilakukan penangkapan oleh Unit Reserse Polsek Sawah Besar napi AUP sedang terbaring di tempat tidur. Polisi juga menemukan sejumlah peralatan untuk membuat eskstasi.

Berdasarkan hasil penyelidikan, napi AUP sudah hampir dua bulan menjadi pasien di rumah sakit tersebut. Kepada penyidik, napi AUP mengaku mengalami ganguan pada bagian perut.




[red/lptn6.com]
Advertisement

TerPopuler